Seakan Tidak Pernah Mempelajari

Bismillah Ar Rahman Ar Rahim

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Mendewasa tidaklah mudah.

Aku lupa apa yang sudah kupelajari.

Terasa sempit.

Seakan tidak pernah mempelajarinya.


Pernah mendengar,

”Sebelum mendaki gunung, berbekal, lah, yang cukup. Sebagai persiapan, bekali dengan ilmu, makanan, dana, serta perlengkapan yang memadai.”


Atau yang lebih sederhana, sebuah pepatah,

“Sedia payung sebelum hujan.”


Rasanya, hidup ini memang selalu perlu persiapan. Baik itu persiapan yang sangat matang maupun sekadar menggosokkan kaki ke keset sebagai persiapan sebelum memasuki rumah.


Ada orang-orang yang dengan sadar mempelajari suatu hal sebelum melakukan dan menghadapi situasi sedemikian rupa. Ada juga, yang belajar langsung ketika mereka sedang mengerjakan dan menghadapi situasi sedemikian rupa itu. Kalau kata orang-orang, learning by doing alias belajar saat melakukan.


Bagiku, aku nggak bisa seperti itu. Ya, meski pada awalnya sering begitu, seiring bertambahnya pengalaman, kayaknya memang perlu deh punya ilmunya dulu sebelum menghadapi sesuatu.


Mempelajari dulu sebelum menghadapi itu terasa, apa ya bahasanya? Enak? Nyaman? Tenang? Serius kayak gitu, rasanya. Ada perasaan lega setelah tahu,

“Iya, ya? Seperti yang tak pelajari waktu itu. Jadi nggak bingung jalaninya.”


Kita ngerti apa yang harus dilakukan, kemungkinan-kemungkinan yang harus diantisipasi, sampai kalau ada masalah gimana menyelesaikannya. Bukan maksud mendewakan hasil yang sempurna, tapi, setidaknya tahu langkah-langkahnya.


Terlebih lagi, soal permasalahan hidup. Ini maksudku permasalahan hidup secara umum, ya. Tentang konsep diri, perekonomian, percintaan, pekerjaan, interaksi sosial, dan lain-lain.


Semakin dewasa, memang semakin serius, kan? Sebenarnya, kalau dilihat-lihat, kegiatan dewasa itu adalah kegiatan masa kecil yang makin serius. Misalnya, mainan mobil-mobilan jadi mobil sungguhan, bermain masak-masakan jadi masak sungguhan. Bermain peran polisi dan penjahat, malah ada yang jadi penjahat sungguhan. *hening


Kegiatan-kegiatan dewasa yang sungguhan itu, kan, memang perlu ilmu dan persiapan yang baik. Terutama sebuah persiapan apabila kegiatan-kegiatan dewasa itu nantinya mengalami masalah, yang bisa berdampak pada diri sendiri. Terutama berdampak pada konsep diri.


Aku termasuk orang yang mempelajari ilmunya sebelum bertindak, teman-teman. Bukan yang sekilas, tapi, sedikit serius, kalau kata orang Jawa bilang, rodok nggethu. Ya, nggak yang serius-serius juga, sih.


Meski begitu, ketika aku ketiban masalah, apalagi seabreg masalah, rasanya kayak nggak pernah mempelajari apa-apa. Semua yang kupelajari seakan terkunci rapat-rapat dalam lemari dan loker. Bingung sejadi-jadinya, merasa terpuruk, yang ada di kepala cuma,

“Duh, kok gini, ya?”

“Ini mana yang diselesaikan duluan?”

“Aku harus gerak. Tapi, gimana?”

“Kok makin nambah, ya?”

“Kok malah tambah berat, ya?”


Serius. Cuma sebagian kecil dari apa yang kupelajari itu muncul di kepala. Ibarat robekan kertas-kertas yang keluar dari loker yang dikunci rapat. Itu, pun, masih belum bisa langsung membawaku back on the track, teman-teman. Susah.


Makanya, kalau ada hal seperti ini pada orang lain, aku nggak mau nuduh dan bilang apa-apa. Rasanya gelap, sempit. Ingin gerak ke sana: terbentur; ke sini: terbentur. Terhimpit, sempit sekali rasanya.


Semua yang kulakukan terasa hambar, teman-teman. Semua. Terasa nggak menghasilkan, nggak prospec. Aku nggak bilang sia-sia juga, sih. Tapi, rasanya hilang arah, lupa tujuan juga.


Seiring berjalannya waktu, pelan-pelan, kupunguti robekan-robekan kertas tadi. Sekilas pikiran-pikiran yang muncul dari apa yang pernah kupelajari. Kususun, kutempatkan untuk setiap masalah,

“Teori ini untuk masalah A.”

“Oh iya, ya, masalah B, kan, harus begini dulu.”


Aku nggak bilang masalahnya langsung selesai, ya. Ibarat bermain gim, petunjuk-petunjuk tadi pelan-pelan menuntun kita untuk menyelesaikan satu episode masalah. Nggak gampang. Jujur.


Tapi, kalau dipikir-pikir, petunjuk-petunjuk itu, kan, yang pernah kita pelajari sebelumnya? Robekan-robekan kertas itu, sedikit yang kita ingat dari apa yang dipelajari. Tapi, dari yang sedikit itu, akhirnya yang menuntun kita pelan-pelan. Tertatih. Dengan persiapan aja masih tertatih, gimana kalau tanpa persiapan?


Aku bersyukur telah diilhamkan untuk belajar sebelum bertindak dan menghadapi masalah. Banyak orang ketika diberi nasehat mengatakan, “Opo jare engko.” Alias “Apa kata nanti.” Bukan sepenuhnya menyalahkan mereka juga, tapi, aku nggak bisa kalau sampai meremehkan seperti mereka.


Jalan keluar itu selalu ada, teman-teman. Aku percaya itu. Jalan keluar yang tidak serta-merta sesuai dengan apa yang kita inginkan dan skenariokan. Masalah baru yang kita hadapi, itu, bisa saja sebuah jalan keluar dari masalah kita yang lain, tapi, kita nggak menyadarinya. Susah berpikir seperti ini ketika masalah seabreg itu datang hampir bersamaan. Setidaknya, setelah membaca ini kalian dapat kisi-kisinya, kan? Wkwkwk


“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”


“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".


Terakhir, teman-teman. Jika mengharuskan kalian mencari bantuan pada orang yang tepat, seperti dokter atau psikiater, silakan. Niatkan sebagai ikhtiar yang beriringan dengan harap dan doa kepada Allah.


Surabaya, Ahad 18 Jumadil Awal 1447 H.

9 November 2025

22.50 WIB

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.