Seperti Tawakkal-nya Anak Kecil

Bismillah Ar-Rahman Ar-Rahim,

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Bangun tidur ‘ku terus mandi, bersekolah, les tambahan, ngaji, dan sayup-sayup suara teman memanggil di depan pagar.


Dewasa ini, maksud saya kehidupan dewasa, kalau dipikir-pikir seperti alur dalam sebuah gim. Saya pernah baca analogi ini di salah satu sarana media sosial. Mungkin, kalau dipikir ada benarnya juga. Setiap hari sebenarnya kita berkutat dengan misi utama (main quest): seperti bersekolah, kuliah, kerja; diselingi dengan misi sampingan (side quest): membantu keluarga, bertetangga, bermasyarakat; tidak lupa juga untuk meningkatkan kualitas diri (char upgrade); tentu, itu semua untuk suatu tujuan (main goal/mission): mungkin seperti impian atau cita-cita kalau di dunia nyata. Semoga yang bukan gimersada gambaran dan paham, ya.


Bermain gim beralur seperti itunggakmudah. Setiap merek gim ada alur cara mainnya sendiri. Biasanya, di sela-sela permainan ada sebuah bacaan atau potongan cuplikan (cut scene) untuk menjelaskan alur cerita dan apa yang harus dilakukan pemain gim (player). Dari situ akan tahu, misi seperti apa yang akan dijalani, gangguan apa yang ada, tantangan yang seperti apa, dan lain-lain.


Terlihat rumit, ya? Saya berusaha menjelaskan sesederhana mungkin. Tapi, ya, sepertinya masih terlihat rumit. Mirip, kan, dengan kehidupan dewasa yang sama-sama rumit?


Kalau dipikir-pikir kenapa masa dewasa ini rumit, ya? Masalah silih berganti, perencanaan yang meleset, harapan yang direlakan, kenyataan yang menyayat, penantian, pengorbanan, mengalah, dan kecewa. Apa aja, deh, yang kalian tahu. Padahal, kita tahu cara mainnya, kan? Iya, cara jadi orang dewasa kita banyak tahu kisi-kisinya, kan? 


Anak-anak kecil itu, kalau kita perhatikan, meskipun mereka belum banyak kenal dan tahu soal dunia, tapi, mereka seakan-akan nggakada beban dan peduli soal apa yang ada di kemudian hari. Lari-lari kecil mereka, tawa lepas mereka, suara yang lantang memanggil nama temannya, rasa penasaran mereka, genggaman erat selembar uang dan makanan ringan melalui tangan-tangan kecil mereka.


Mereka nggakpeduli bensin langka, anak pejabat yang naik menggantikan bapaknya, cucian yang belum kering, makian bos dan klien, gajian yang cuma lewat sepekan. Bahkan, mereka juga nggak ambil pusing, taman bermain mereka becek, sandal mereka nyemplunggot, atau baju mereka kotor.


Mereka yakin, kalau besok baik-baik saja. Ya, namanya juga anak kecil, masih ada yang ngurusTapi, mereka yakin, besok taman mereka nggak becek lagi, sandal dan bajunya sudah bersih lagi. Meskipun mereka nggakdisuruh untuk yakin, tapi mereka yakin. Semuanya bakalbaik-baik saja, mereka yakin. Mereka ngaduke orang tua mereka, dan mereka yakin.


Padahal, mereka belum belajar banyak, belum tahu banyak. Siapa tahu, besok hujan lagi seharian, tamannya makinbecek. Sandalnya mungkin bersih, tapi, sisa baunya masih ada. Baju kotor itu, punnggakbenar-benar bersih. Tapi, mereka masa’peduli? Mereka yakin dan menantikan hari esok.


Menjadi dewasa, banyak hal yang telah saya tahu dan pelajari. Dari hal-hal kecil hingga masalah prinsip. Pelajaran yang membentuk pribadi saya hari ini. Kisi-kisi harian yang dijalani, diulang setiap harinya.


Masih banyak orang yang ragu dengan hari esok. Ya, kadang-kadang termasuk saya juga. Ekspektasi yang diciptakan, harapan yang dilambungkan. Nggaksesederhana dan segampang itu untuk yakin seperti anak-anak kecil itu.


Kudunya, karena saya sudah tahu ‘cara’ hidup, saya mestilebih yakin dibanding anak-anak kecil itu. Saya tahu celahnya, saya tahu prakiraannya, saya tahu cari solusinya. Dan, yang paling penting, setelah belajar, saya tahu kalau memang saya nggakakan sanggup membereskan sendirian. Saya hanya hamba. Dan Allah-lah sebaik-baik penolong.


Sebagaimana anak kecil mengadu pada orang tua dan kemudian yakin. Maka, seharusnya saya juga mengadukan ruwetnyahidup ini kepada Allah dan yakin akan pertolongannya.


“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar“. (Quran Surah Ath-Thalaq (65) ayat 2).


“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya“. (Quran Surah Ath-Thalaq (65) ayat 4).


Nasihat untuk pribadi.


Surabaya, Ahad, 2 Jumadil Akhir 1447.

23 November 2025.

23.25 WIB.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.