Penghujung Ramadan 1446 H
Bismillah Ar-Rahman Ar-Rahim
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Kini, di sinilah aku sekarang: di penghujung asar, di penghujung Ramadan.
Setelah beberapa Ramadan lewat, pada Ramadan ini, aku beranikan menulis sesuatu tentang bulan yang penuh berkah ini. Ya, aku 'beranikan', sebab sejujurnya aku takut kalau ini hanya sekadar bualan atau lip service atau sok alim yang membinasakan.
Berada pada perasaan hampa. Seperti halnya kalian setelah selesai menamatkan bacaan, menyelesaikan sebuah film atau tontonan berseri. Kalian menggandrunginya, bukan sekadar ikut-ikutan, kalian betul-betul menikmatinya. Namun ketika selesai, apa selanjutnya?
Terutama pada Ramadan ini. Semangatnya yang membekas, debaran-debaran pada setiap harinya, hari-hari yang penuh harap: tentu, sebab Ramadan diselimuti waktu-waktu mustajabah. Gelisah, apakah selepas ini masih kukerjakan amalan ketaatan-ketaatan ini? Sudah rahasia umum, dibelenggunya musuh abadi manusia menjadikan terasa ringan melakukan ketaatan pada bulan ini. Rasanya, sayang jika harus berlalu. Tapi, jika dipikir, kalau setiap bulan adalah Ramadan, apa spesialnya?
Sebab, karena spesialnya ini, lah, tiap tahun kita nantikan dan harapkan supaya umur sampai padanya. Dan ketika hendak berakhir, harap kita juga sudah sampai pada pertemuan berikutnya. Inilah sebenar-benarnya perlombaan itu. Perlombaan ketaatan. Dinanti setiap tahunnya.
Sedih sebab ditinggalkan bersamaan dengan kegembiraan atas datangnya lebaran. Tentu, kegembiraan yang penuh dengan iman, syukur, dan harap.
Semoga amalku serta saudara-saudara muslimin-muslimat sekalian Allah terima, selama Ramadan ini. Serta berlanjut setelah Ramadan. Sebab, adanya Ramadan tiada lain tiada bukan supaya orang-orang mukmin menjadi bertakwa.
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Al-Baqarah 2 ayat 183)
Surabaya, Ahad, 30 Ramadan 1446 H.
30 Maret 2025.
17.36 WIB
Tidak ada komentar: