Langgar Aturan
Bismillah Ar-Rahman Ar-Rahim
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Tidak menyangka, dari beberapa ide tulisan, ternyata tulisan ini yang lebih dahulu terbit setelah sekian lama tidak menulis. Ide ini muncul beberapa jam yang lalu, persis sebelum tulisan ini dibuat. Daripada menunda-nunda lagi, akhirnya kuputuskan untuk segera mengunggahnya di blog ini.
Hari ini aku menghadiri peringatan 1 tahun bengkel sepeda milik kawanku. Acara intim, makan-makan bersama kawan pesepeda yang lain, berjalan lancar hingga selesai dan pulang. Acara ini malam hari tetapi tidak terlalu larut.
Singkat cerita, pulanglah aku. Kuputuskan untuk mampir minimarket sejenak, di salah satu jalan utama di Surabaya. Terpaksa ke minimarket itu, sebenarnya, karena sudah cukup malam dan beberapa minimarket pinggir kota banyak yang tidak buka 24 jam. Melalui kejadian di minimarket inilah, ide tulisan ini muncul.
Ya, sebelum aku beranjak menarik gas motor untuk pulang, sudah barang tentu aku diminta uang parkir. Parkir liar. Aku termasuk orang yang menentang parkir liar, meskipun, tidak jarang juga mereka kuberi selembar 2000 perak. Tetapi, malam ini tidak ada 2000 perak tersebut. Petugas parkir, pun, mengekspresikan keluhannya tepat di depan muka. Tidak keras, memang, namun cukup menjengkelkan, yang menjadikanku ingin menuliskan keresahan ini. 😂
Aku termasuk orang yang suka dengan adanya aturan (selama aturan itu benar dan sedikit mudarat-nya). Bukan orang yang taat banget, sih, soal aturan. Tetapi, dengan adanya sebuah aturan/peraturan, menjalani hidup bisa lebih tertata. Perilaku parkir liar tersebut sudah jelas melanggar aturan. Karena, sepengetahuanku, pihak minimarket telah membayar uang retribusi parkir kepada pemerintah daerah setempat. 😥
Sebagai orang yang suka dengan adanya aturan, yang ingin kubahas adalah, sepertinya susah, ya, ingin melihat orang lain juga taat dengan aturan yang berlaku. Tebersit dalam benak, bagaimana jika seandainya masyarakat kita taat aturan? Orang sepertiku sebenarnya banyak, namun yang berbanding terbalik justru lebih banyak. 😥😅
Sesederhana melihat masyarakat tidak berhenti melebihi garis di persimpangan lampu lalu lintas. Sesederhana tidak menerobosnya. Sesederhana tidak berkendara di trotoar ketika macet. Sesederhana tidak menggunakan lampu strobo bagi sipil. Sesederhana menggunakan lajur kanan di tol hanya untuk mendahului. Hal-hal tersebut masih dalam lingkup lalu lintas, belum soal aturan fundamental lain, hingga aturan agama. 😞
Meminjam istilah dari Srimulat, rasanya seperti, hil yang mustahal. Tapi, ketika melihat negara lain, kok, mereka bisa, ya? Kok, sepertinya mudah, ya? Masyarakatnya, kok, mau taat aturan, ya? Apakah karena rakyat kita yang terlalu banyak, sehingga susah diatur? Apakah pemerintahnya kurang? Apakah kualitas pendidikan yang menjadikannya? Apakah kemiskinan struktural? Dan, apakah-apakah yang lainnya? 😕
Ah, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau, subur, dan lembut. Harapan untuk masyarakat menjadi lebih baik itu masih ada sebenarnya, masih membara, buatku. Dimulai dari keluarga, lingkungan RT/RW, kelurahan, kecamatan, hingga satu kota. 🔥
Tebersit pikiran kemustahilan ini karena, ya, inilah dunia. Dunia yang fana dan nggak sempurna, "Ini dunia, bos, bukan surga!". Sesusah itu mengharapkan dunia yang ideal menurut kita. Ada saja, hal-hal unik yang bikin gregetan soal tatanan hidup bermasyarakat. Ada benarnya juga, kita ini siapa, sih? Mengharap ini dan itu? Mengusahakan yang terbaik, aturan, larangan, imbauan, eh, lebih banyak yang tak acuh dibanding acuh. 😂
Pada akhirnya, kita memang nggak bisa menggerakkan hati manusia. Adanya aturan, bahkan ancaman serta hukuman untuk pelanggar, juga nggak njamin mereka terketuk dan berubah. Kita menyampaikan, Allah yang beri hidayah untuk berubah, Allah yang menggerakkan hati makhluknya.
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (Al Qashash 28 ayat 56).
Doa-doa baik masih menjadi senjata terhebat, untuk sebuah perubahan, untuk meruntuhkan kemustahilan.
Surabaya, 19 Januari 2025
01.27 WIB
Tidak ada komentar: