Sebuah Pelajaran
Senja kali ini seakan menyapaku,
Setelah sebelumnya mendung
Disertai dengan air turun dengan lembutnya.
Tidak deras, tapi cukup membuat tanah yang kering menjadi basah.
Jingganya yang muncul disela kumolonimbus yang mulai pergi
Seakan mengisyaratkan bahwa,
"Bagaimana kabarmu?"
"Bukankah setelah kesulitan ada kemudahan?"
Ah, benar juga fikirku
Bahkan Allaah yang telah mengabarkannya dalam Quran.
Namun diriku saja yang beranggapan bahwa badai dan mendung seolah tak pernah usai.
Bukankah pelangi hadir setelah turunnya hujan?
Bukankah mutiara didapatkan dari dasar laut yang dalam nan gelap?
Meskipun diriku bukan penyuka senja seperti kebanyakan,
Tapi nyatanya ia telah mengajarkanku sesuatu yang harusnya telah kuketahui
Dan seakan mengatakan,
"Mungkin kau hanya menganggapku biasa saja, dan tidak terlalu menyukaiku, namun ada yang ingin kukatakan padamu, ingatlah bahwa tak selamanya langit dirundung badai, sebagaimana hati durundung pilu."
Surabaya,
Jumat, 25 Mei 2018
Setelah sebelumnya mendung
Disertai dengan air turun dengan lembutnya.
Tidak deras, tapi cukup membuat tanah yang kering menjadi basah.
Jingganya yang muncul disela kumolonimbus yang mulai pergi
Seakan mengisyaratkan bahwa,
"Bagaimana kabarmu?"
"Bukankah setelah kesulitan ada kemudahan?"
Ah, benar juga fikirku
Bahkan Allaah yang telah mengabarkannya dalam Quran.
Namun diriku saja yang beranggapan bahwa badai dan mendung seolah tak pernah usai.
Bukankah pelangi hadir setelah turunnya hujan?
Bukankah mutiara didapatkan dari dasar laut yang dalam nan gelap?
Meskipun diriku bukan penyuka senja seperti kebanyakan,
Tapi nyatanya ia telah mengajarkanku sesuatu yang harusnya telah kuketahui
Dan seakan mengatakan,
"Mungkin kau hanya menganggapku biasa saja, dan tidak terlalu menyukaiku, namun ada yang ingin kukatakan padamu, ingatlah bahwa tak selamanya langit dirundung badai, sebagaimana hati durundung pilu."
Surabaya,
Jumat, 25 Mei 2018
Tidak ada komentar: